Santri DafaClose

Minggu, 07 Oktober 2018

Perpisahan


Bulan separuh di angkasa beranjak naik, bintang gemintang mulai bermunculan. Matahari mulai terbenam. Sahutan adzan maghrib terdengar dari berbagai masjid terdekat dengan kebisingan hilir mudik kendaraan di jalanan. Aku duduk di teras masjid bersebelahan dengan jalan raya. Untuk melaksanakan shalat maghrib. Saat itu, sekembalinya dari pasar untuk membeli sebuah Al-Qur’an yang akan ku berikan pada seeorang. Sebuah pesan chat masuk. Membuatku tertegun beberapa saat.

Lantas aku pun bertanya-tanya, kenapa dia berkata seperti itu? 1 menit yang lalu, baru saja dia telpon, dan baik-baik saja. Apa maksudnya dari chat barusan? Apa ada yang salah? Sebuah perintah untuk melupakan. Rasanya bagaikan tertusuk duri tajam, menyayat hati. 
“Sekarang lupakan saja tentang kita.”
“Kenapa? Apakah saya berbuat salah?”
“Tidak. Karena kamu terlalu baik.”

Hanya linangan air mata yang tertahan. saat itu, aku tak bisa berfikir jernih. Dan hanya menduga-duga saja. Menduga bahwa memang keberadaanku di hidupnya, membuat dia tertekan. Mungkin tidak sepantasnya diri ini bersanding dengannya, berharap bahwa kita bisa bersama sehidup semati seiya sekata dalam bingkai yang diridho’i. atau mungkin, keberadaanku di hatinya tidak bisa menggantikan posisi seseorang yang sempat berharga bagi hidupnya, atau mungkin ia telah menemukan seorang yang jauh lebih baik. Ahh.. fikiran fikiran seperti ini memenuhi daya nalarku.

“kalau memang keberadaan saya di hidupmu, membuat tidak nyaman, silahkan saya terima.”
Aku pernah merasakan sakit, luka yang teramat dalam. Hingga membuatku ingin melarikan diri. Jika ia pun pernah merasa terluka karena diriku yang acap kali hendak meninggalkannya, maka aku pun beberapa kali terluka karenanya. Tanpa dia sadari, tanpa ia fahami. Tapi, perasaan ini padanya tidak pernah hilang, dan semakin bertahan. 

“Assalamu’alaikum. Mohon maaf saya ungkapan lewat chat, tidak ada unsur keterpaksaan ataupun kebencian. Silahkan kamu cari orang yang lebih baik agamanya, keturunannya dan materinya. Semua demi kebahagiaan dunia akhiratmu, demi masa depanmu.”

Perpisahan ini amat sangat mengagumkan. Hingga membuat sesak nafas. 
Melepaskan memanglah tidak mudah, tapi belajar merelakan jauh lebih baik. Hati ini mungkin belumlah menerima sepenuhnya. Namun setidaknya, akan mencoba berusaha untuk memaafkan untuk mengikhlaskan. 

Aku belajar arti rela dari sehelai daun kering kerontang yang membuatnya terbang terbawa laju angin hingga kemudian hinggap pada antah berantah bahkan mungkin jatuh seketika. Dialah sehelai daun jatuh yang tak pernah mengutuk pada sebatang pohon yang gagah berdiri.
Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukanlah persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu jahat atau aniaya. Bukan. Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak kedamaian di dalam hati. 

Biarlah waktu mengobati seluruh kesedihan. Ketika kita tidak tau mau melakukan apalagi, ketika kita merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik. Hari demi hari akan menghapus selembar demi lembar kesedihan. Minggu demi minggu akan melepas sepapan demi sepapan kegelisahan. Bulan, tahun, maka rontok sudahlah bangunan kesedihan di dalam hati. Biarkan waktu mengobatinya, maka semoga kita mulai lapang hati menerimanya. Sambil terus mengisi hari-hari dengan baik dan positif. 

Created_By “Sinar Fajar”

Facebook Twitter Google+

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© 2017 Santri Dafa | Theme by Mas Juni