Santri DafaClose

Rabu, 27 September 2017

PERJUANGANKU UNTUKMU - Fanny


Pemikiran seseorang untuk mencapai kesuksesan itu berbeda, termasuk saya yang berbeda, termasuk saya yang berbeda pendapat dengan teman – teman saya. Dari SD saya selalu berharap menjadi seorang santri shalehah, hidup di pondok pesantren dengan bimbingan guru – guru atau ustadz dan ustadzah yang hebat ( wawasan ilmu agamanya luas ) tapi sayang setelah lulus SD saya tidak bisa mencapainya, karena faktor usia yang mungkin akan membuat orang tua saya khawatir.
Waktu berlalu seiring berkembangnya jaman, banyak terbentuk sekolah – sekolah modern yang fasilitasnya lebih maju. Saat pembelajaran SMP mulai berakhir, banyak orang yang bertanya “ akan melanjutkan ke mana sekolahnya ? “ jawabannya tetap sama “ saya ingin sekolah sambil peasntren ! “
Ternyata lsalah satu sahabat yang saya anggap kakak sendiri ( Irneu ) memberi tahu bahwa ada sekolah aliyah yang menyediakan pesantren “ Darul Falah “, jurusannya ada 2 PAI dan IPS serta membuka 2 keterampilan otomotif dan tata busana. Entah bisikan apa yang terngiang, hati saya langsung “ tep ka dinya “ kalau kata orang sunda mah. Tanpa fikir panjang saya langsung meminta Irneu untuk menceritakan tentang sekolah dan pesantrennya. 
Dari situ saya berfikir kalau saya berada di sana, saya bisa mewujudkan keinginan yang telah lama saya dambakan dan saya juga bisa memperdalam ilmu agama saya serta belajar menjadi seorang pentata busana ( desainer ) yang juga telah lama saya idamkan. 
Namun bukan hal yang mudah untuk saya mewujudkan semuanya, dan semuanya membutuhkan mental, dan perjuangan yang optimal. Saya berbicara kepada ibu, namun ibu hanya bilang “ bicara terhadap ayahmu, karena ayahmu yang memutuskan, ibu tidak bisa berbuat apa – apa, kalau saja ibu punya penghasilan mungkin ibu akan menyekolahkanmu ! “ bibir saya tiba – tiba membeku, air matapun mulai terbendung, hati yang semula tersenyum berdarah karena tertusuk. 
Setiap malam hanya keberanian dan perkataan apa, yang saya fikirkan untuk menghadap ayah. Setelah keberanian saya terkumpul tiada waku untuk saya bertemu dengan ayah, namun saat waktu istimewa berkunjung, malah mental saya yeng menjadi kerupuk, seakan mulut ini terbelenggu di dalam lautan setelah ayah kembali dengan pekerjaannya, air mata menjadi isyarat penyesalan saya. Setiap yang terulang hanya itu itu dan itu saja.
Hingga pasca puncak pembelajaran berakhir, guru – guru mulai mengumumkan bahwasannya pendaftaran siswa baru tingkat SLTA sudah di buka. Dengan hal ini saya mencoba untuk berbicara kepada ayah, walaupun ayah masih berada dalam pekerjaannya. Ternyata jawaban yang terucap darinya bukanlah jawaban yang saya harapkan, mata yang penuh percaya diri luntur dengan air mata yang berkaca – kaca. Kaki yang semula berdiri tegap, lemas tak berdaya, yang bisa saya lakukan hanya menangis putus asa dan berfikir bahwasannya harapan yang telah dicita – citakan akan terkubur bersama luka.  
Namun entah ilham apa yang turun, sehingga saya menjadi berani kembali untuk mengubur rasa takut itu, saya mencoba shareing dengan teh mila ( teteh nya irneu ), akhirnya saya menemukan jawaban dari permasalahan saya, dan saya memberanikan diri kembali untuk menghadap ayah, dan alhamdulillah hasilnya diluar yang saya fikirkan, pokoknya jawaban kali ini membuat saya ingin tersenyum sepanjang hari. 
Dan ternyata buhan hanya saya dan Irneu yang berniat ke sekolah dan Pesantren Darul Falah, Tatun juga bermiat ke sana dan Tatun juga ingin mesantren, jadi saya mempunyai kebahagiaan tambahan dengan adanya Tatun. 
Satu hari sebelumberangkat saya baru mempersiapkan apa – apa yang harus saya bawa, jadi semuanya belum  matang untuk dibawa.
......................................................  skip ..........................................................
Setelah saya sampai di depan pesantren, saya salut dengan kebersamaan para santri setelah shalat berjamaah, tapi saya juga heran dengan kerusuhan mereka yang terburu – buru masuk kobong, entah karena kedatangan santri baru atau apa ? saya tidak mengerti 
......................................................  skip ............................................................
Ketika orang tua saya dan Tatun pulang, saya dan tatun ditanya kayak sasaran narasumber baru, tabi bukan hanya itu, mereka juga memperkenalkan dirinya masing – masing. Namun ada yang aneh dari mereka banyak kesamaan antara mereka dengan teman saya dan ada yang lebih aneh dari mereka yaitu muna, mukanya mirip dengan gambar yang pernah saya gambar. Ada satu kakak kelas yang secara keseluruhan sama dengan penari jaipong sekaligus penyanyi di Cibodas yaitu Teh Ena sampai cara bicara dan nyanyinya juga sama. Teh Nurul Hikmah kalau saya perhatikan mirip dengan Alwis sahabat saya jadi kalau saya ngobrol, lagi jalan sama Teh Nurul serasa bareng Alwis. Teh Anisa juga mukanya dan cara bicaranya sama dengan Teh Ervi kakak kelas sekaligus sepupu saya. Dan ada santri senior yang mengingatkan saya akan kelucuan teman sakaligus sepupu saya, yaitu Teh Zahro pokoknya keseluruhannya sama dengan Melda teman saya, jadi di sini saya bisa mengobati rasa kangen dengan adanya Melda yang ke dua. 
....................................................  skip .................................................................
Hari pertama dan berikutnya masih bisa dibilang hari terkunci, karena saaya tidak bisa berkata apa – apa. Mau nanya malu, mau bercerita malu juga, mau bercanda lebih lagi malunya, jadi saya hanya bisa diam – diam dan diam. Ya intinya yang saya rasakan diam itu bukan berarti diam karena tidak betah. Kalu dibilang betah alhamdulillah betah karena memang ini keinginan saya dan atas ridha Allah yang telah menuntun hati saya. Kalau ditanya saling mengenal, mungkin itu jawaban yang susah dikeluarkan, karena untuk berinteraksi dengan mereka itulah yang menjadi pikiran bagi saya, namun saya juga berpendapat kalau untuk akrab itu ada unsur tersendiri jadi lama kelamaam juga mulai akrab, dan alhamdulillah atas izin Allah saya sudah mulai akrab.
................................................. skip ......................................................................
Ada satu hal yang membuat saya terkesan dan terharu, sebelumnya saya sangat mengidolakan sosok ustadz muda yang sering muncul di layar kaca, ia aktif dalam mengisi acara itu. Ustadz Syamsuddin Nur Elmarusy namanya saya sudah mengidolakannya, jauh sebelum saya mengenal pesantren ini, dan saya sempat berharap, kalau seandainya ada orang yang berbaik hati untuk membagi kebahagiaan dengan mengundang ustadz Syam ke sini, mungkin saya adalah orang pertama yang akan bahagia. Dan ternyata harapan itu sedikit terbuka bagi saya, anak dari pimpinan pondok pesantren Darul Falah ini ( A Zaky ) adalah teman dari ustadz Syam serta satu kampus dengannya. Saat A Zaky bilang begitu saya langsung kaget apalagi waktu A Zaky bilang bahwa lain waktu ia ingin mengundang ustadz Syam ke pesantren dan kalau bisa A Zaky ingin mengundang satu paket dengan ustadz Maulana dan ustadzah Oky. Dari situ air mata kebahagiaan mulai menetes, dari situ saya baru ingat dengan foto yang pernah saya download, ada foto Syam dan temannya yang dia atasnya bertuliskan “ saya dan ustadz Syamsuddin Nur mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa  “ kemudian saya mencari facebook A Zaky dan melihat foto – foto A Zaky dan ternyata benar foto yang foto yang pernah saya download ada di facebook A Zaky. Dari sini saya jadi percaya bahwa segala harapan akan menjadi nyata, apabila dilandasi dengan do’a dan tetap tidak lupa dengan cinta terhadap Allah SWT.
...................................................... skip ............................................................
Karena disini sya melihat kesamaan antara santri senior dan teman – teman saya, disini saya juga disamakan dengan santri alumni yang kalau tidak salah namanya “ Teh Empat “ kalau menurut  saya ini adalah pertukaran pendapat siapa yang menyamakan dia yang akan disamakan. Saya sangat – sangat malu apabila ada orang yang melihat saya dan berpendapat bahwa saya mirip dengan Teh Empat, mungkin ini nadalah teka teki aneh yang pernah saya rasakan. 
.................................................... skip ..............................................................
Disini juga saya belajar untuk lebih dekat dengan Allah SWT, lebih mencintai Al – Quran serta lebih mengenal Rasulullah  SAW yang baru – baru saya dengar dan tidak sedikit santri yang mendo’akan Rasulullah, saya sangat salut dengan mereka karena ada salah satu ustadz yang berkata bahwa siapa yang bershalawat terhadap Rasulullah, ia bagaikan orang yang sedang  mengisi air yang penuh dan air itu kembali tumpah pada si pengisi air tersebut. Artinya siapapun orang yang mendoakan ( shalawat ) kepada orang yang telah dijamin keselamatannya ( Rasulullah SAW ) maka doa itu akan kembali padanya.
....................................................... skip ......................................................
Hari – hari berlalu semuanya berjalan lancar meskipun masih ada hal – hal yang canggung, tapi saya akan belajar untuk menjadi santriwati yang shalehah dan menjadi teman yang baik bagi santriwati yang lain, saya juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tua serta keluarga- keluarga sya. Mereka yang ada di balik perjuangan ini, tanpa restu mereka mungkin saya tidak akan pernah berada di sini.
# ...
“ Mungkin tulisan yang bertinta hitam ini bukan termasuk ke dalam artikel,melainkan lebih kepada curhatab buku diary. Tapi ini lah saya, apa yang ingin saya sampaikan maka saya curahkan walau hanya tertera dalam kertas buram “. 
# THE END 
Ketika perjuangan berkunjung 
“ Berdoalah “
Ridha Allah bersamamu 

Ketika isyarat menampakannya 
“ mintalah “ 
Restu orang tua menyelimutimu 
Ketika suram kau ayah 
“ sabarlah “ 
Keselamatan menghampirimu 
Ketika terang menghadapmu 
“ bersyukurlah “
Kebajikan mengikutimu
Orang yang sukses adalah orang yang merasakan suasana perjuangan, kenapa ? karena orang yang telah berjuang adalah orang yang sedang belajar, belajar sabar menghadapi segala persoalan, belajar menahan air mata dalam keadaan yang membelenggu, belajar ikhlash dengan keadaan yang tidak kau sukai, belajar bersyukur dengan kebahagiaan ( karena sebenarnya ujian itu adalah lebih susah bersyukur daripada bersabar ). Mereka yang berjuang juga akan merasakan pahit manis, tawa tangis, bahagia menangis akan mereka rasakan sedangkan orang yang sukses tanpa perjuangan dia tidak bisa di kategorikan orang sukses, kenapa ? karena dia tidak pernah merasakan suasana seperti halnya  orang yang berjuang.
“ Janganlah kamu melihat bulan di siang hari 
Karena kamu tidak dapat melihat keindahannya
Begitu juga dengan kamu duduk melamun 
Kamu tidak dapat sampai pada tujuan “

“ Hiasi hidupmu dengan senyum dalam keistiqomahan “

“ Raihlah prestasi 
Gapailah mimpi ; 
Wujudkan cita – cita “ 


Facebook Twitter Google+

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© 2017 Santri Dafa | Theme by Mas Juni