Santri DafaClose

Sabtu, 18 Maret 2017

Ahlan Wasahlan Cinta... (Part 2)


Saat hati gerimis oleh kepenatan dan sejuta masalah. Tiba-tiba ada sebujur garis berwarna diangkasa. Begitu indah mrlrnakan hati saat jiwa ang basah mencari arti.

Sobat santri....... wujud cinta menghambakan selalu atas apa yang dicintainya. Ia memotret sedikit keberanian pada benih-benih kesungguhan. Pada AWC (Ahlan Wasahlan Cinta) PART I kita membahas apa itu cinta, tetapi tidak akan ada definis cinta yang pasti tentang cinta, karena Allah swt menyerahkan kepada setiap masing-masing kita. Allah swt tidak akan memaksakan kehendak satu hati karena setiap hati itu pasti berbeda rasanya. 

Telah kita ketahui bersama bahwa ada sebuah analisis yang menyatakan anak-anak SD zaman sekarang sudah sangat tahu apa itu ‘pacaran’. Mereka telah diprovokasikanoleh pergaulan remaja dari sinetron-sinetron televisi. Para remaja terlanjur telah disuguh dengan tontonan lawan jenis yang brbau syahwati. Akses-aksees menuju tontonan yang tidak bermoral sudah sangat mudah didapatkan. Banyak tangan-tangan mungil yang gatal jika sehari saja tidak menyentuh blackberry-nya, bermai dengan warna warni hitam dibalik duna maya. Mereka tidak peduli lagi dengan mainan yang terbuat dari kayu ataupun tanah liat, mereka tidak paduli dengan boneka yang terbuat dari dedunan. Huft............. menyadihkan bukan.


“ menjadi dewasa adalah pilihan sedangkan menjadi tua adalah suatu kepastian “


Berbeda itu setelah kita tampil ‘ dewasa ‘. Itulah perasaan para remaja saat mereka menjembati sebuah muara, berbagai perasaan dan cara pandang baru hadir dalam pikiran mereka. Masa itulah ketika kanak-kanak mencuat dan kedewasaan yaring mengkristal. Keinginan untuk mengakui jati diri adalah sebuah sumber subjektivitas remaja. Manusia setengah dewasa yang penuh dengan agresivitas dan afeksionalitas. Inilah diriku yang akan mengambil langkah dalam menyusun masa depan. Inilah diriku orang yang paling penting diantara orang-orang disekitarku. Inilah aku orang yang siap membentuk dunia baru. Inilah aku.... Inilah aku..... aku.... aku!

Disisi lain sering terjadi tumpang tindih saat kepribadian belum mantap. Banyak ide – ide besar menjadi ambisi kekanak-kanakan. Ego dan jutek bisa membakar setiap nilai yang membangun sisi afeksional gelombang kanak – kanak yang masih akrab dengan diri. Mulailah tetesan itu hadir. Ada  nuansa baru yang dirasakan. Ada simpati, ketertarikan, dan serangkaian proses identifikasi diri.

“ Siapapun yang tidak berhasil melewati masa transisi kedewasaan ini, hidupnya akan hancur dan tidak punya pegangan hidup dan tidak punya jati diri. Pada saat itulah, setan akan membimbing dengan penuh keceriaan. “

Seorang remaja ini mudah tersret dalam gaya pribadi yang akan tampil `super` dihadapan sang doi, ingin menjadi perfect padahal remaja itu bukan memperbaiki diri tetapi justru malah mempertebal penopengan diri yang ketat.

Allah SWT berfirman “ Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan apabila mereka berkata , engkau akan mendengarkan tuturkatanya . mereka seakan-akan kayu yang tersandar........ ” ( Al – Munafiqun: 4 )

Ayat Al – Quran ini berbicara kepada kita tentang kemunafikan yang muncul pada semua unsur-unsur kalimat kemudian membual menggunakan mulut. Perusak iman yang sebenarnya sering kita pasang untuk mendapatkan perhatian si dia. Kandng banyak juga yang didring dengan sumpah setia dusta. Muluk dan benar-benar gombal dan yang paling bodohnya mereka begiyu saja.

Sobat santri ingat ya......... jika engkau sedang terbang tinggi diatas sana, lalu ada seseorang yang datang kepadamu itu addalah sesuatu yang wajar sajalah..... tetepi jika kamu telah terjatuh dan terbaring tak berdaya kemudian ada orang yang datang datang kepadamu, nah dialah orang yang luarrrrr biaza...........

Telah menjadi nyata kebohonganya  apabila dikatakan bahwa pacaran adalah tidak merusak moral dimeja ZAMAN yang MEMBISU ini. Perhatikanlah :

Pertama, pelecehan fisik! Ini adalah bukti yang tidak bisa dipungkiri lagi, coba deh sobat santri perhatikan disemua media baik itu televisi, koran maupun internet banyak yang menayangkan seseorang terbunuh atau bunuh diri dan basa basi lainya dengan hanya karna cinta, hanya karna asmara, hanya karna seseorang yang beristilahkan pacar.

Kedua, pelecehan non-fisik ( psikologis ). Penjajahan non-fisik yang bertemakan pacaran ini bisa terlihat dari ketidak pedean seseorang untuk terbuka apa adanya ( JAIM ). Kita kembali kepada kalimat yang telah saya nyatakan diatas mereka justru makin mempertebal penopengan mereka agar terlihat perfect.

Mencintai dan dicintai adalah fitrah manusia
Setiap insan didunia akan merasakanya
Indah ceria kadang merana
Itulah fitrah cinta seorang manusia

Itu memang benar adanya, tetapi apa layak menodai kefitrahan cinta yang diberikan Allah kepada manusia? Kalau justru malah membuat diri kita memaksakan kepada ladang kenistaan lahir dan batin, apa itu wajar dan fitrah? Tentu saja tidak sobat. (Bersambung....)
(Nurul & Eca)




WhastApp Facebook Twitter Google+

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© 2017 Santri Dafa | Theme by Mas Juni