Santri DafaClose

Kamis, 02 Maret 2017

Ahlan Wasahlan Cinta... (Part 1)



Kaifa halukum sobat santri, obrolan kita hari ini sedikit lebih menarik bagi para remaja. Remaja mana sih yang tidak tahu tentang cinta, uwhh...

Sobat, jangan karna kita terikat dengan gelar santri kita jadi “ minder “ soal cinta, ingatlah Rasulullah SAW aja pernah “ bermain “ cinta kenapa kita tidak (jangan negative thinking dulu yah). Mashabi pernah berkata “ setiap insan di dunia pasti punya rasa cinta .“

Jika cinta itu air pasti ia bergelombang. Jika cinta itu jalan maka ia pasti berlubang. Jika cinta itu jam ia pasti akan selalu berputar. Cinta itu misteri yang tak bisa ditaklukan sang ksatria. Cinta itu misteri yang tak bisa di tebak sang peramal. Cinta itu misteri yang tak bisa di jabarkan sang peramal.

Artinya, dalam dunia cinta selalu ada kebahagiaan dan kesengsaraan hidup. Cinta itu tidak tetap, ia selalu berubah wujud seperti air. Ibnu Qayyim Al – Janziyyah dalam Raudhatul Muhubbin, ustadz Salim mengutip dalam Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah. Cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab. Kaidah syurga ini merintis tentang sebuah jalan, itulah ta’lim kepada kita bahwa sebab adalah jantung dimana cinta berdetak.

Terlalu banyak definisi untuk menjabarkan tentang cinta tapi jalan terakhir untuk memehami cinta adalah dengan perasaan yang diiringiaksi nyata. Perasaan setiap insan itu berbeda, harumnya cinta pun berbeda itu pula yang menyebabkan berjuta – juta definisi tentang cinta telah lahir. Dari titik ini kita dapat menemukan 2 kutub yang saling bersinggungan tentang cinta. Pertama, ia bisa menjadi pengalih arah yang positif. Saat manajeman cinta menempatkan kepada jalurnya yang didasari kesucian untuk menggapai ridho Allah. Kedua ia bisa menjadi pengalih arah yang negatif. Sebuah konsep cinta yang tidak jelas karena awal dan akhirnya. 

“ dan aku tolak (nyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali ( nafsu ) yang di beri rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S YUSUF ayat 53)

Dari terjemahan ayat di atas menyatakan bahwa antara nafsu dan cinta itu sangat tipis. Kita itu bukan malaikat, janganlah kamu mencoba untuk memberantas nafsu yang talah Allah pasang dalam diri kita. Nafsu itu tidak boleh kau hilangkan, tapi nafsu cukup di kendalikan saja. Jika kamu mencoba untuk menghilangkan nafsu maka kamu berarti menghilangkan diri sendiri. 

Cinta yang sehat dan tegap tegak berdiri, jika belum ada ikrar halal dasarnya tidak akan bisa menuntut apa – apa. Tak ada definisi cinta yang tidak pasti, namun banyak yang sudah memahami bahkan memiliki prinsip cinta, tetapi bagi generasi muda dizaman ini tidak mampu mendefinisikan cinta dalam kehidupan mereka. Sedangkan cinta itu dapat dirasakan tanpa diajarkan. Lalu kemanakah mereka akn membaya cinta tersebut ?..... (Bersambung)


(Nurul Hikmah / Eka Azizah)




WhastApp Facebook Twitter Google+

1 komentar:

© 2017 Santri Dafa | Theme by Mas Juni