Santri DafaClose

Jumat, 11 November 2016

Cerpen : "Sekilas Tentangmu"



Kadang malam hanya tentang letih-letih yang tertatih, harap-harap yang fana, dan langit-langit kamar yang gusar oleh senyumu. padahal kau sedang asyik menyelami hati yang baru. Sementara aku sibuk dengan sajakku, sekedar menulisi luka dialinea baru. Kau tau? Hari ini dan entah seterunya, sajaku kebingungan mencari alamat rumahmu. Sampai seorang lelaki tua yang termangu, memberitahu : rumahnya didalam sakitku.

Katakan. Sajak mana yang harus kulukai lagi? Demi melepasmu dikekal ingatanku. Memang, pada akhirnya cinta hanya perihal datang dan pergi dan pada kenyataannya hidup hanyalah perihal ada, kemudian berdampingan, lalu bersatu dan terpisah.
Entah karena diri yang menghendaki, atau bahkan takdir yang menginginkan.
Lalu kenyataannya lagi hidup adalah perihal tangis yang terurai, tawa yang berderai, dan suka duka yang saling tumpang tindih.

Dan saat takdir menyudahi perihal yang tak ingin ku sudahi, sepertinya aku hanya perlu bersyukur atas apa-apa yang Tuhan akhiri. Karena tidak semua yang kita harapkan akan Tuhan kabulkan. Juga memberi peringatan pada diri, bahwa yang berkaki pasti akan pergi.                         

Aku selalu suka caramu memandang sesuatu, bahkan saat korneamu menilik indah korneaku.
Ada tentram dalam tatap yang tak kutemukan pada diri lainnya.
" meski indahku membuatmu nyaman, tapi tolong senangi kekuranganku dengan lapang " sahutmu dengan tenang.
Sayang, jika waktu dapat terulang namun kesana dan kecuekanmu tetap tertanam. Ketahuilah, seikhlas senja yang tenggelam pada malam, aku kan tetap memilihmu sebagai tempat untuk pulang. Jawabku lirih berlinang.                         

Aku selalu rindu perihal yang tak mungkin terulang. Saat aku menyeruput kopimu yang baru saja kau seduh. Dengan memelas kau berkata "sayang itu belum diberi gula" katamu. Biar saja, didepanku ada pemanis yang melebihi gula, jawabku lirih ketelingamu. Atau saat dagumu bertengger dibahuku dan tanganmu nan mungil memlintir-mlintir ujung rambutku. Kau cubit sesekali telingaku yang lebar sembari berkata dengan sengal "bodoh ya aku bisa mencintai manusia hitam sepertimu" Jawabku "aku berkulit hitam agar tidak cepat kotor" sembari mencubit pipimu nan lesung.
Sedederhana itulah rinduku padamu. 
Adakah kau tahu??

(Dian Esa Desideria)
WhastApp Facebook Twitter Google+

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© 2017 Santri Dafa | Theme by Mas Juni