Santri DafaClose

Minggu, 09 Oktober 2016

Cerpen : "Perasaan yang masih sama"

Foto dokumentasi pribadi



Aku akan menunggumu di Taman belakang Masjid Salman ITB
Hanya itu pesan yang dia kirim malam ini, akupun terlelap dengan sebuah khayalan apa yang akan aku lakukan esok jika aku bertemu dengannya.
---
“apa kabar?”
“aku baik. Bagaimana denganmu?” aku memperhatikan setiap detail sosok lelaki di depanku. Masih dengan rambut yang seperti tak pernah disisir, kaos belel dengan warna abu kesukaannya dan tentu saja dengan motor matic yang dia gunakan semasa kami kuliah dulu. Jujur saja aku rindu lelaki ini.
“aku juga baik. Lama tak bertemu.”
Iya, dan aku rindu padamu. Namun kata ini yang datang dari hati terdalam, dicerna oleh pikiranku yang sehat, membuat urat-uratku menegang hingga aku gugup dan bergetar hanya sampai ditenggoranku.
Di taman ini kami sekarang berada, taman belakang masjid salman ITB. Tiga tahun yang lalu kami juga berada disini, saling diam, menahan gugup dan perasaan yang menggebu. Sekarang, dengan pohon yang dulu masih berdiri tegap, dengan angin yang tak bosan memberi kami kesejukan, dengan dia yang masih ku cintai, kami bersama. Hanya sekedar mengingat yang telah lalu, aku tau, aku masih mencintainya.
“sejak kapan kamu pindah ke Bandung?”
“sejak satu tahun lalu” aku tersadar dari lamunan. Ya, dulu aku hanya kuliah di Bandung, datang dari pojokan desa yang jauh dari kata kota, menjadi salah satu mahasiswa jurusan Psikologi di salah satu Universitas ternama disini. Hingga setelah selesai kuliah aku bekerja di salah satu instansi penanganan kejiwaan di Bandung, hingga akhirnya aku memutuskan pindah kesini.
“kamu masih ingat, tiga tahun yang lalu kita berada disini? Tempat ini masih sama. Aku slalu rindu tempat ini. Sejuk dan membuatku merasa damai.”
“tentu saja, walau kamu tak pernah kesini lagi, aku slalu mendatangi taman ini, ini menjadi tempat favorit kita dulu, dan sekarang hanya jadi tempat favoritku”
“benarkah? Ah.. rasanya aku ingin pindah saja kesini”
“pindah saja atuh, pak Ridwan Kamil gak bakal ngusir kamu ko”
“hahaha” dan kami tertawa bersama.
Hatiku menghangat. Tempat ini, tawa ini, kebahagiaan ini, perasaan ini masih sama seperti tiga tahun yang lalu.
“Anisa, sebenarnya aku kesini ingin memberimu ini”
Aku mengambil kertas, atau tepatnya amplop berwarna merah maroon. Setelah ku perhatikan..
Deg! Jantungku terasa berhenti, aku harap ini hanya mimpi, aku harap dia bukan Doni-ku, aku harap tak ada genangan air di mataku. Aku membisu, menerima sebuah amplop, yang tepatnya, itu adalah kartu undangan pernikahan.
“Maafkan aku”
aku hanya bisa terdiam.
“aku tau kamu menungguku selama ini. Tapi perasaanku tak lagi sama. Kini aku akan menikah.”
Aku masih membisu, memperhatikan undangan yang menjadi pelantara tanganku yang putih, kontras dengan warna tangannya yang kecoklatan. Kuperhatikan, ada foto prewedding disana, itu foto Doni, dengan seorang perempuan yang anggun terbalut kebaya berwarna pink, senyum manis dengan lesung pipit yang membuatnya begitu tampak menawan. Aku melihat Doni disamping perempuan itu, tersenyum menggenggam tangan perempuan itu, aku melihat Doni sangat bahagia.
Aku masih membisu.
Aku raih kartu undangan itu, kini, ia tepat berada dalam genggamanku. Doni menatapku nanar.
“selamat. Aku tak tau akan datang atau tidak”
Dan akupun mengambil langkah mundur, berbalik dan menjauh. Kini aku merasakan ada air yang mengalir dari sudut mataku. Perasaan itu masih tetap sama, aku masih mencintainya, hingga sampai saat ia mengatakan akan menikah.
( Yuli Hardiastuti Utari Muhyi )
Facebook Twitter Google+

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

© 2017 Santri Dafa | Theme by Mas Juni